1. Arti Iman Kepada Allah
Iman
adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan
diamalkan dengan perbuatan. Dengan demikian iman kepada Allah berarti
meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT itu ada, Allah Maha Esa.
Keyakinan itu diucapkan dalam kalimat :
أشهد
أن لاإله إلا الله
“Aku
bersaksi tiada Tuhan selain Allah”
Sebagai
perwujudan dari keyakinan dan ucapan itu, harus diikuti dengan
perbuatan, yakni menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.
Rukun
Iman yang pertama adalah iman kepada Allah SWT yang merupakan dasar
dari seluruh ajaran Islam. Orang yang akan memeluk agama Islam
terlebih dahulu harus mengucapkan kalimat syahadat. Pada hakekatnya
kepercayaan kepada Allah SWT sudah dimiliki manusia sejak ia lahir.
Bahkan manusia telah menyatakan keimanannya kepada Allah SWT sejak ia
berada di alam arwah. Firman Allah SWT :
وإذ
اخذ ربك من بني أدم من ظهورهم ذريتهم
وأشهدهم على انفسهم الست بربكم قالوا بلى
شهدنا
“Dan
ingatlah, ketika TuhanMu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari
sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka
(seraya berfirman) : “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab
: “Betul Engkau Tuhan kami, kami bersaksi.” (QS. Al-A’raf :
172)
Jauh
sebelum datangnya agama Islam, orang-orang jahiliyah juga sudah
mengenal Allah SWT. Mereka mengerti bahwa yang menciptakan alam
semesta dan yang harus disembah adalah dzat yang Maha Pencipta, yakni
Allah SWT. Sebagaimana diungkapkan di dalam Al-Qur’an :
ولئن
سألتهم من خلق السموت والأرض ليقولن خلقهن
العزيز العليم
“Dan
sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka : “Siapakah yang
menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab :
“Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Az-Zukhruf : 9)
Manusia
memiliki kecenderungan untuk berlindung kepada sesuatu Yang Maha
Kuasa. Yang Maha Kuasa itu adalah dzat yang mengatur alam semesta
ini. Dzat yang mengatur alam semesta ini sudah pasti berada di atas
segalanya. Akal sehat tidak akan menerima jika alam semesta yang
sangat luas dan teramat rumit ini diatur oleh dzat yang kemampuannya
terbatas. Sekalipun manusia sekarang ini sudah dapat menciptakan
teknologi yang sangat canggih, namun manusia tidak dapat mengatur
alam raya ini. Dengan kecanggihan teknologinya, manusia tidak akan
dapat menghentikan barang sedetik pun bumi untuk berputar.
Dzat
Allah adalah sesuatu yang ghaib. Akal manusia tidak mungkin dapat
memikirkan dzat Allah. Oleh sebab itu mengenai adanya Allah SWT, kita
harus yakin dan puas dengan apa yang telah dijelaskan Allah SWT
melalui firman-firman-Nya dan bukti-bukti berupa adanya alam semesta
ini.
Ketika
Rasulullah SAW endapat kabar tentang adanya sekelompok orang yang
berusaha memikirkan dan mencari hakekat dari dzat Allah, maka beliau
melarang mereka untuk melakukan hal itu. Rasulullah SAW bersabda :
عن
ابن عباس أن قوما تفكروا فى الله عزوجل
وقال النبي صلى الله عليه وسلم تفكروا فى
خلق الله ولا تفكروا فى ذات الله (رواه
ابو الشيخ)
“Dari
Ibnu Abbas RA, diceritakan bahwa ada suatu kaum yang memikirkan
tentang (hakekat) dzat Allah Azza Wajalla, maka Nabi SAW bersabda :
“Pikirkanlah tentang ciptaan Allah dan janganlah kamu memikirkan
(hakekat) dzat Allah.” (HR. Abu Asy-Syaikh)
Sebagai
perwujudan dari keyakinan akan adanya Allah, Tuhan Yang Maha Esa
adalah pengabdian kita kepada Nya. Pengabdian kita kepada Allah
adalah pengabdian dalam bentuk peribadatan, kepatuhan, dan ketaatan
secara mutlak. Tidak menghambakan diri kepada selain Allah, dan tidak
pula mempersekutukan Nya dengan sesuatu yang lain. Itulah keimanan
yang sesungguhnya. Jika sudah demikian Insya Allah hidup kita akan
tentram. Apabila hati dan jiwa sudah tentram, maka seseorang akan
berani dan tabah dalam menghadapi liku-liku kehidupan ini. Segala
nikmat dan kesenangan selalu disyukurinya. Sebaliknya setiap musibah
dan kesusahan selalu diterimanya dengan sabar.
2.
Dasar Beriman Kepada Allah
a. Kecenderungan
dan pengakuan hati
b. Wahyu
Allah atau Al-Qur’an
c. Petunjuk
Rasulullah atau Hadits
Setiap
manusia secara fitrah, ada kecenderungan hatinya untuk percaya kepada
kekuatan ghaib yang bersifat Maha Kuasa. Tetapi dengan rasa
kecenderungan hati secara fitrah itu tidak cukup. Pengakuan hati
merupakan dasar iman. Namun dengan pengakuan hati tidak akan ada
artinya, tanpa ucapan lisan dan pengalaman anggota tubuh. Sebab
antara pengakuan hati, pengucapan lisan, dan pengalaman anggota tubuh
merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Untuk mencapai
keimanan yang benar tidak hanya berdasarkan fitrah pengakuan hati
nurani saja, tetapi harus dipadukan dengan Al-Qur’an dan Hadits.
- Cara Beriman Kepada Allah SWT
Iman
kepada Allah SWT merupakan pokok dari seluruh iman yang tergabung
dalam rukun iman. Karena iman kepada Allah SWT merupakan pokok dari
keimanan yang lain, maka keimanan kepada Allah SWT harus tertanam
dengan benar kepada diri seseorang. Sebab jika iman kepada Allah SWT
tidak tertanam dengan benar, maka ketidak-benaran ini akan berlanjut
kepada keimanan yang lain, seperti iman kepada malaikat-malaikat Nya,
kitab-kitab Nya, rasul-rasul Nya, hari kiamat, serta qadha dan qadar
Nya. Dan pada akhirnya akan merusak ibadah seseorang secara
keseluruhan. Di masyarakat tidak jarang kita jumpai cara-cara
beribadah seorang yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, padahal
orang tersebut mengaku beragama Islam.
Ditinjau
dari segi yang umum dan yang khusus ada dua cara beriman kepada Allah
SWT :
a. Bersifat
Ijmali
Cara
beriman kepada Allah SWT yang bersifat ijmali maksudnya adalah, bahwa
kita mepercayai Allah SWT secara umum atau secara garis besar.
Al-Qur’an sebagai suber ajaran pokok Islam telah memberikan pedoman
kepada kita dalam mengenal Allah SWT. Diterangkan, bahwa Allah adalah
dzat yang Maha Esa, Maha Suci. Dia Maha Pencipta, Maha Mendengar,
Maha Kuasa, dan Maha Sempurna.
b. Bersifat
Tafshili
Cara
beriman kepada Allah SWT yang bersifat tafsili, maksudnya adalah
mempercayai Allah secara rinci. Kita wajib percaya dengan sepenuh
hati bahwa Allah SWT memiliki sifat-sifat yang berbeda dengan
sifat-sifat makhluk Nya. Sebagai bukti adalah adanya “Asmaul Husna”
yang kita dianjurkan untuk berdoa dengan Asmaul Husna serta menghafal
dan juga meresapi dalam hati dengan menghayati makna yang terkandung
di dalamnya.







0 komentar:
Posting Komentar